Sabtu, 17 Juli 2010

Prinsip Archimedes

Pengantar

Pernahkah dirimu melihat kapal laut ? jika belum pernah melihat kapal laut secara langsung, mudah-mudahan dirimu pernah melihat kapal laut melalui televisi (Tuh ada gambar kapal di samping). Coba bayangkan. Kapal yang massanya sangat besar tidak tenggelam, sedangkan sebuah batu yang ukurannya kecil dan terasa ringan bisa tenggelam. Aneh khan ? Mengapa bisa demikian ?

Jawabannya sangat mudah jika dirimu memahami konsep pengapungan dan prinsip Archimedes. Pada kesempatan ini gurumuda ingin membimbing dirimu untuk memahami apa sesungguhnya prinsip archimedes. Selamat belajar ya… Semoga setelah mempelajari pokok bahasan ini dirimu dengan mudah menjelaskan semua persoalan berkaitan dengan prinsiparchimedes, termasuk alasan mengapa kapal yang massanya besar tidak tenggelam.

Gaya Apung

Sebelum membahas prinsip Archimedes lebih jauh, gurumuda ingin mengajak dirimu untuk melakukan percobaan kecil-kecilan berikut ini. Silahkan cari sebuah batu yang ukurannya agak besar, lalu angkat batu tersebut. Apakah batu tersebut terasa berat ? nah, sekarang coba masukan batu ke dalam air (masukan batu ke dalam air laut atau air kolam atau air yang ada dalam sebuah wadah, misalnya ember). Kali ini batu diangkat dalam air. Bagaimana berat batu tersebut ? apakah batu terasa lebih ringan ketika diangkat dalam air atau ketika tidak diangkat dalam air ? agar bisa menjawab pertanyaan gurumuda dengan benar, sebaiknya dirimu melakukan percobaan tersebut terlebih dahulu.

Untuk memperoleh hasil percobaan yang lebih akurat, dirimu bisa melakukan percobaan dengan menimbang batu menggunakan timbangan pegas (seandainya ada timbangan pegas di sekolah-mu). Timbanglah batu di udara terlebih dahulu. Catat berat batu tersebut. Selanjutnya, masukan batu ke dalam sebuah wadah yang berisi air, lalu timbang lagi batu tersebut. Bandingkan manakah berat batu yang lebih besar, ketika batu ditimbang di dalam air atau ketika batu ditimbang di udara ?

Ketika dirimu menimbang batu di dalam air, berat batu yang terukur pada timbangan pegas menjadi lebih kecil dibandingkan dengan ketika dirimu menimbang batu di udara (tidak di dalam air). Massa batu yang terukur pada timbangan lebih kecil karena ada gaya apung yang menekan batu ke atas. Efek yang sama akan dirasakan ketika kita mengangkat benda apapun dalam air. Batu atau benda apapun akan terasa lebih ringan jika diangkat dalam air. Hal ini bukan berarti bahwa sebagian batu atau benda yang diangkat hilang sehingga berat batu menjadi lebih kecil, tetapi karena adanya gaya apung. Arah gaya apung ke atas, alias searah dengan gaya angkat yang kita berikan pada batu tersebut sehingga batu atau benda apapun yang diangkat di dalam air terasa lebih ringan. Sampai di sini, dirimu sudah paham-kah ?

Keterangan gambar :

Fpegas = gaya pegas, w = gaya berat batu, F1 = gaya yang diberikan fluida pada bagian atas batu, F2 = gaya yang diberikan fluida pada bagian bawah batu, Fapung = gaya apung.

Fapung merupakan gaya total yang diberikan fluida pada batu (Fapung = F2-F1). Arah gaya apung (Fapung) ke atas, karena gaya yang diberikan fluida pada bagian bawah batu (F2) lebih besar daripada gaya yang diberikan fluida pada bagian atas batu (F1). Hal ini dikarenakan tekanan fluida pada bagian bawah lebih besar daripada tekanan fluida pada bagian atas batu.

Prinsip Archimedes

Dalam kehidupan sehari-hari, kita akan menemukan bahwa benda yang dimasukan ke dalam fluida seperti air misalnya, memiliki berat yang lebih kecil daripada ketika benda tidak berada di dalam fluida tersebut. Dirimu mungkin sulit mengangkat sebuah batu dari atas permukaan tanah tetapi batu yang sama dengan mudah diangkat dari dasar kolam. Hal ini disebabkan karena adanya gaya apung sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Gaya apung terjadi karena adanya perbedaan tekanan fluida pada kedalamanyang berbeda. Seperti yang telah gurumuda jelaskan pada pokok bahasan Tekanan pada Fluida, tekanan fluida bertambah terhadap kedalaman. Semakin dalam fluida (zat cair), semakin besar tekanan fluida tersebut. Ketika sebuah benda dimasukkan ke dalam fluida, maka akan terdapat perbedaan tekanan antara fluida pada bagian atas benda dan fluida pada bagian bawah benda. Fluidayang terletak pada bagian bawah benda memiliki tekanan yang lebih besar daripada fluida yang berada di bagian atas benda. (perhatikan gambar di bawah).

Pada gambar di atas, tampak sebuah benda melayang di dalam air. Fluida yang berada dibagian bawah benda memiliki tekanan yang lebih besar daripada fluida yang terletak pada bagian atas benda. Hal ini disebabkan karena fluida yang berada di bawah benda memiliki kedalaman yang lebih besar daripada fluida yang berada di atas benda (h2 > h1).

Besarnya tekanan fluida pada kedalamana h2 adalah :

Besarnya tekanan fluida pada kedalamana h1 adalah :

F2 = gaya yang diberikan oleh fluida pada bagian bawah benda, F1 = gaya yang diberikan oleh fluida pada bagian atas benda, A = luas permukaan benda

Selisih antara F2 dan F1 merupakan gaya total yang diberikan oleh fluida pada benda, yang kita kenal dengan istilah gaya apung. Besarnya gaya apung adalah :

Keterangan :

Karena

(ingat kembali persamaan massa jenis)

Maka persamaan yang menyatakan besarnya gaya apung (Fapung) di atas bisa kita tulis menjadi :

mFg = wF = berat fluida yang memiliki volume yang sama dengan volume benda yang tercelup. Berdasarkan persamaan di atas, kita bisa mengatakan bahwa gaya apung pada benda sama dengan berat fluida yang dipindahkan. Ingat bahwa yang dimaksudkan dengan fluida yang dipindahkan di sini adalah volume fluida yang sama dengan volume benda yang tercelup dalam fluida. Pada gambar di atas, gurumuda menggunakan ilustrasi di mana semua bagian benda tercelup dalam fluida (air). Jika dinyatakan dalam gambar maka akan tampak sebagai berikut :

Apabila benda yang dimasukkan ke dalam fluida, terapung, di mana bagian benda yang tercelup hanya sebagian maka volume fluida yang dipindahkan = volume bagian benda yang tercelup dalam fluida tersebut. Tidak peduli apapun benda dan bagaimana bentuk benda tersebut, semuanya akan mengalami hal yang sama. Ini adalah buah karya eyang bututArchimedes (287-212 SM) yang saat ini diwariskan kepada kita dan lebih dikenal dengan julukan “Prinsip Archimedes”. Prinsip Archimedes menyatakan bahwa :

Ketika sebuah benda tercelup seluruhnya atau sebagian di dalam zat cair, zat cair akan memberikan gaya ke atas (gaya apung) pada benda, di mana besarnya gaya ke atas (gaya apung) sama dengan berat zat cair yang dipindahkan.

Dirimu bisa membuktikan prinsip Archimedes dengan melakukan percobaan kecil-kecilan berikut. Masukan air ke dalam sebuah wadah (ember dkk). Usahakan sampai meluap sehingga ember tersebut benar-benar penuh terisi air. Setelah itu, silahkan masukan sebuah benda ke dalam air. Setelah benda dimasukan ke dalam air, maka sebagian air akan tumpah. Volume air yang tumpah = volume benda yang tercelup dalam air tersebut. Jika seluruh bagian benda tercelup dalam air, maka volume air yang tumpah = volume benda tersebut. Tapi jika benda hanya tercelup sebagian, maka volume air yang tumpah = volume dari bagian benda yang tercelup dalam air Besarnya gaya apung yang diberikan oleh air pada benda = berat air yang tumpah (berat air yang tumpah = w = mairg = massa jenis air x volume air yang tumpah x percepatan gravitasi). Volume air yang tumpah = volume benda yang tercelup dalam air

Kisah Eyang Archimedes

Konon katanya, eyang butut Archimedes yang hidup antara tahun 287-212 SM ditugaskan oleh Raja Hieron II untuk menyelidiki apakah mahkota yang dibuat untuk Sang Raja terbuat dari emas murni atau tidak. Untuk mengetahui apakah mahkota tersebut terbuat dari emas murni atau mahkota tersebut mengandung logam lain, eyang butut Archimedes pada mulanya kebingungan. Persoalannya, bentuk mahkota itu tidak beraturan dan tidak mungkin dihancurkan dahulu agarbisa ditentukan apakah mahkota terbuat dari emas murni atau tidak. Ide brilian muncul ketika ia sedang mandi dan mungkin karena saking senangnya, eyang butut Archimedes ini langsung berlari dalam keadaan bugil sambil berteriak “eureka” yang artinya “saya telah menemukannya”. Waduh, saking senangnya lupa pake handuk… hehe… ide brilian untuk menentukan apakah mahkota raja terbuat dari emas murni atau tidak adalah dengan terlebih dahulu menentukan Berat Jenis mahkota tersebut lalu membandingkannya dengan berat jenis emas. Jika mahkota terbuat dari emas murni, maka berat jenis mahkota = berat jenis emas.

Berat jenis suatu benda merupakan perbandingan antara berat benda tersebut di udara dengan berat air yang memiliki volume yang sama dengan volume benda. Secara matematis ditulis :

Nah, sekarang bagaimana menentukan berat air yang memiliki volume yang sama dengan volume benda ?

Menurut eyang butut Archimedes, berat air yang memiliki volume yang sama dengan volume benda = besarnya gaya apung ketika benda tenggelam (seluruh bagan benda tercelup dalam air). Hal ini sama saja dengan berat benda yang hilang ketika ditimbang dalam air. Dengan demikian :

Untuk menentukan berat jenis mahkota, maka terlebih dahulu mahkota ditimbang di udara (BeratMahkotaDiudara). Selanjutnya mahkota dimasukan ke dalam air lalu ditimbang lagi untuk memperoleh BeratMahkotaYangHilang. Jadi :

Setelah berat jenis mahkota diperoleh, maka selanjutnya dibandingkan dengan berat jenis emas. Berat jenis emas = 19,3. Jika berat jenis mahkota = berat jenis emas, maka mahkota tersebut terbuat dari emas murni. Tapi jika mahkota tidak terbuat dari emas murni, maka berat jenis mahkota tidak sama dengan berat jenis emas. Begitu….

Mengapa Kapal Tidak Tenggelam ?

Pada pokok bahasan Massa Jenis dan Berat Jenis, telah dijelaskan konsep terapung dan tenggelam dari sudut pandang ilmu fisika. Apabila kerapatan alias massa jenis suatu benda lebih kecil dari massa jenis air, maka benda akan terapung. Sebaliknya jika kerapatan suatu benda lebih besar dari kerapatan air maka benda tersebut akan tenggelam.

MISTERI HUKUM ARCHIMEDES DALAM KEHIDUPAN

LATAR BELAKANG MASALAH
Kehidupan tak pernah luput dari masalah-masalah umum yang telah kita ketahui permasalahannya maupun yang belum kita ketahui seluk-beluknya. Sebagai manusia yang mempunyai akal dan pikiran, kita dituntut untuk memecahkan berbagai masalah-masalah yang belum pernah terungkap misterinya. Seperti para penemu, ilmuwan, dan cendekiawan terdahulu, penemuan-penemuan dan gagasan-gagasan brilian mereka sebenarnya adalah hasil dari ketekunan mereka untuk memecahkan semua misteri tersebut, alhasil buah pikiran mereka tetap menjadi sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupan dan ilmu pengetahuan.

Tak dapat dipungkiri, hampir setiap ilmu pengetahuan masih memiliki misteri dalam setiap materi dan teorinya. Salah satu ilmu pengetahuan tersebuat adalah SAINS atau biasa dikenal dengan sebutan ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA).
Sains merupakan hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan, dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar yang meliputi penyelidikan, penyusunan, dan pengujian gagasan.

Seperti ilmu-ilmu yang lainnya, sains pun memiliki beberapa cabang yang sangat penting untuk dipelajari dalam mengungkap misteri alam dalam kehidupan ini. Salah satu cabang tersebut yaitu FISIKA.

Pengetahuan fisika sebagai ilmu dan artinya dalam masyarakat merupakan inti isi pembelajaran mengembangkan sains. Maka pelajaran fisika harus dapat memberikan pengertian tentang masalah alam, teknologi, manusia, dan lingkungan.
Mengingat misteri alam diatas yang telah disinggung oleh penulis, maka pada kesempatan kali ini kami menyajikan suatu eksperimen tentang salah satu misteri alam yang pernah terungkap oleh ahli matematika dan filosofi berkebangsaan Yunani kenamaan Archimedes, yang mana penemuan tersebut terus dikenang dan dipelajari dengan sebutan HUKUM ARCHIMEDES.

Dengan metode eksperimen penulis berharap agar para pembaca mendapatkan gambaran yang jelas dari hasil pengamatannya, dibandingkan dengan hanya membaca dan mendengarkan.
Dengan latar belakang tersebut penulis memilih judul makalah laboratorium fisika sebagai berikut:

“MISTERI HUKUM ARCHIMEDES DALAM KEHIDUPAN”.

B. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah di atas didapat beberapa identifikasi masalah sebagai berikut:
1. Kehidupan tidak pernah luput dari berbagai misteri alam yang belum terungkap kebenarannya.
2. Sebagai manusia yang memiliki akal dan pikiran kita dituntut untuk memecahkan misteri-misteri tersebut dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan sains, salah satunya adalah ilmu fisika.
3. Hukum Archimedes adalah salah satu dari sekian banyak misteri alam yang telah terungkap oleh ilmuwan-ilmuwan ternama salah satunya adalah Archimedes.
4. Metode eksperimen lebih membantu para siswa untuk memecahkan misteri-misteri alam daripada hanya membaca dan mendengarkan.

C. PEMBATASAN MASALAH
Pada eksperimen ini terdapat batasan-batasan masalah dalam hal:
1. Melakukan eksperimen untuk mengetahui kasus-kasus yang berhubungan dengan hukum Archimedes.
2. Penyediaan alat dan bahan yang berhubungan dengan penelitian Hukum Archimedes.
3. Proses pembelajaran meggunakan metode eksperimen dan analisis data.

D. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apakah benda yang melayang di dalam fluida hanya disebabkan karena gaya ke atas benda sama dengan gaya berat benda atau disebabkan karena massa jenis fluida sama dengan massa jenis benda?
2. Bagaimana cara membedakan antara benda yang mengapung karena adanya gaya apung atau gaya Archimedes dengan benda yang mengapung karena disebabkan oleh tegangan permukaan zat cair?
3. Mengapa telur mengapung di atas permukaan air garam (larutan garam) tetapi tenggelam di dalam air tawar?
4. Apakah semua telur akan tenggelam jika dicelupkan ke dalam air tawar?

E. TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan dari makalah penelitian ini adalah agar pembaca dan peneliti dapat:
1. Mempelajari dan memahami pengertian Hukum Archimedes.
2. Mengidentifikasi kasus-kasus yang berhubungan dengan Hukum Archimedes dalam kehidupan sehari-hari.
3. Membandingkan massa jenis suatu fluida cair dengan fluida cair lainnya dan mengetahui pengaruhnya bagi benda yang dicelupkan ke dalamnya.
4. Membandingkan benda yang mengapung karena disebabkan oleh gaya apung atau gaya Archimedes dengan tegangan permukaan zat cair.
5. Mengetahui manfaat-manfaat dari kasus-kasus dalam hukum Archimedes.
6. Menerapkan kasus-kasus hukum Archimedes dalam kehidupan sehari-hari.


F. MANFAAT PENELITIAN

Manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Membuat pembaca dan peneliti lebih menyadari bahwa masih banyak misteri alam yang harus dipelajari dan dipecahkan.
2. Membuat pembaca dan peneliti lebih kritis dalam menyikapi misteri-misteri alam.
3. Membuat pembaca dan peneliti lebih serius mendalami dan mempelajari hal-hal dan misteri-misteri alam yang telah dipecahkan oleh para ilmuwan terdahulu.
4. Membuat pembaca dan peneliti dapat menerapkan kasus hukum Archimedes dalam kehidupan sehari-hari.

Keajaiban Penciptaan Makhluk

Sesungguhnya salah satu bukti keagungan Allah di alam semesta ini adalah penciptaan langit. Coba perhatikan langit yang tinggi, luas dan bundar ini. Dan coba perhatikan juga keagungan penciptaannya, keelokan bentuknya dan keajaiban matahari, bulan dan bintang. Coba lihat keindahan bentuk dan keterpautan antara timur dan baratnya. Tidak ada satupun benda yang terlepas dari hikmah dan kebijaksanaan Allah. Bahkan langit merupakan makhluk yang paling hebat penciptaannya, paling rapi dan paling universal daripada tubuh manusia. Tidak akan bisa dibandingkan antara seluruh yang ada di atas muka bumi dengan keajaiban langit. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya.” (An-Nazi’at: 27-28)

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (Al-Baqarah: 164)

Allah terlebih dahulu menyebutkan penciptaan langit sebelum menyebutkan yang lain. Dalam ayat lain Allah berfirman:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (Ali Imran: 190)

Ayat seperti ini banyak diulang di dalam Al Qur’an. Bumi, lautan dan udara serta semua yang ada di bawah naungan langit jika dibandingkan dengan luasnya langit seperti setetes air di lautan samudra luas. Oleh sebab itulah Allah seringkali menyebutkan penciptaan langit dalam Al Qur’an. Kadangkala untuk menceritakan keagungan dan keluasannya, kadangkala untuk bersumpah dengannya, kadangkala untuk mengajak manusia agar memperhatikan kebesarannya, kadangkala dijadikan sebagai bukti bagi manusia akan kemahabesaran yang telah menciptakan dan meninggikannya. Kadangkala dijadikan sebagai bukti adanya hari berbangkit dan hari Kiamat. Kadangkala dijadikan sebagai bukti rububiyah Allah dan kemahaesaan-Nya, bahwasanya Dia-lah Allah yang tiada ilah yang berhak disembah selain Dia. Kadangkala keindahan langit, ketinggiannya, keluasannya dan tidak ada celah padanya dijadikan sebagai bukti kesempurnaan hikmah dan kudrat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Demikian pula halnya dengan benda-benda yang ada di langit seperti bintang-bintang, matahari, bulan dan keajaiban-keajaiban lainnya yang tidak mampu ditembus oleh akal manusia. Sering kali Allah bersumpah dengan langit di dalam Al Qur’an. Misalnya dalam firman Allah: “Demi langit yang mempunyai gugusan bintang.” (Al-Buruj: 1)

Dan firman Allah:
“Demi langit dan yang datang pada malam hari.” (Ath-Thariq: 1)

Dan firman Allah:
“Dan demi langit serta pembinaannya.” (Asy-Syams: 5)

Dan firman Allah:
“Demi langit yang mengandung hujan.” (Ath-Thariq: 11)

Allah Subhanahu wa Ta’ala paling sering bersumpah dengan langit, bintang, matahari dan bulan daripada bersumpah dengan makhluk-makhluk lainnya. Dan Allah bersumpah dengan apa saja yang Dia kehendaki dari makhluk-makhluk-Nya. Karena tanda-tanda kebesaran dan keajaiban yang menjadi bukti keesaan-Nya. Oleh sebab itu semakin besar tanda kekuasaan itu dan semakin dalam kandungan maknanya maka Allah semakin sering bersumpah dengannya daripada dengan yang lain. Oleh sebab itu Allah sering bersumpah dengan langit, misalnya dalam firman Allah:
“Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui.” (Al-Waqi’ah: 75-76)

Pendapat ahli tafsir yang paling benar menyebutkan bahwa Allah bersumpah dengan tempat-tempat beredarnya bintang-bintang itu di langit. Allah bersumpah dengan makhluk-makhluk yang dikehendaki-Nya yang menjadi bukti atas rububiyah dan keesaan-Nya.

Allah telah memuji orang-orang yang merenungi penciptaan langit dan bumi serta mencela orang-orang yang berpaling darinya. Allah berfirman:
“Dan Kami jadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya.” (Al-Anbiya’: 32)

Coba perhatikan penciptaan atap yang sangat besar ini, yang sangat kuat, sangat keras dan sangat kokoh, diciptakan dari asap yang merupakan uap air. Allah berfirman: “Dan Kami bangun di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh.” (An-Naba’: 12)

Dalam ayat lain Allah berfirman:
“Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya.” (An-Nazi’at: 27-28)

Dan dalam ayat lainnya Allah berfirman:
“Dan Kami jadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara.” (Al-Anbiya’: 32)

Coba perhatikan bangunan langit yang teramat besar dan luas ini, Allah telah meninggikan bangunannya dan menghiasinya dengan berbagai perhiasan yang indah. Dan Allah menebarkan keajaiban-keajaiban dan tanda-tanda kebesaran-Nya. Coba lihat bagaimana Allah memulai penciptaannya dari uap yang terangkat dari air lalu menjadi asap!

Maha suci Allah yang mencipta makhluk dan menetapkan kadarnya Yang berada di atas Arsy, Yang Maha Esa lagi Maha Tunggal

Coba pandang sekali lagi di langit di atasmu dan lihatlah bintang-bintang yang ada di sana, peredarannya, tempat terbit dan tempat tenggelamnya. Coba lihat matahari dan bulan serta perbedaan tempat terbit dan tenggelamnya di barat dan di timur, dan lihatlah peredarannya yang merambat perlahan namun terus menerus beredar tanpa henti dan tanpa berubah jalur, bahkan keduanya tetap pada garis edarnya!

Allah telah menetapkan bilangan tertentu bagi peredaran matahari dan bulan yang tidak akan bertambah ataupun berkurang sedikitpun sampai akhirnya nanti akan dilipat oleh penciptanya. Kemudian coba lihat berulang kali, engkau pasti melihat agungnya tanda-tanda kebesaran Allah itu, lihatlah ketinggian, keluasan dan kekokohannya. Ia tidak menjalar ke atas seperti api dan tidak jatuh ke bawah seperti benda-benda berat, tidak ada tiang yang menyangganya dan tidak ada tali yang menggantungnya, ia tetap tegak dengan qudrat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menegakkan langit dan bumi hingga tidak runtuh.

Kemudian coba lihat kerataan dan keseimbangannya, tidak ada retak, tidak ada belah, tidak ada pecah, tidak ada kebengkokan dan kemiringannya. Lalu coba perhatikan warna yang diberikan untuknya, warna yang paling bagus dan paling enak dipandang bahkan dapat menguatkan mata. Sebab bila seseorang terganggu alat penglihatannya ia dianjurkan agar sering-sering melihat warna hijau dan warna-warna yang cenderung gelap. Ahli dokter mengatakan bahwa barangsiapa yang melemah penglihatannya maka obatnya adalah sering-sering melihat bejana hijau yang berisi air. Coba perhatikan bagaimana Allah menciptakan langit dengan warna tersebut agar pandangan mata akan terpana menatapnya dan tidak merasa letih karena lama memandanginya. Ini adalah beberapa faedah dari warnanya dan hikmah di balik penciptaannya tentu lebih banyak lagi.